Berbagi Karena Peduli

Berbagi Karena Peduli

blog-single

Acara Dialog Inspiratif merupakan akumulasi berbagai pertemuan minat dan juga kesempatan. Tamu kita kali ini adalah DR. Achmad Adhitya, seorang anak muda yang memiliki kontribusi yang besar kepada Indonesia, terutama daerah tertinggal. Saya berjumpa Mas Adhit ketika launching Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional yang dilaksanakan tanggal 23 – 28 Oktober 2009 di Jakarta. Waktu itu Mas Adhit masih mahasiswa Phd Student-University of Leiden, Netherlands and Netherlands Institute of Ecology (NIOO-KNAW). Melalui surat yang dikirim dari Den Haag dan tertanda tanggal 7 November 2009, Mas Adhit menekannya pentingnya para diaspora untuk turut serta dalam menyemangati “tunas-tunas bangsa untuk selalu belajar dan menimba ilmu sedalam-dalamnya demi mengharumkan nama Tanah Air tercinta.” Harapan ini telah terbukti. Dalam satu dekade terakhir, program-program yang digagas oleh Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional serta didukung oleh pemerintah telah menghasilkan kerjasama perorangan maupun antar institusi.

Mas Adhit dalam Dialog Inspiratif membawa topik “sustainability” (keberkelanjutan) dalam membangun masyarakat. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan salah satu pilar dari Garis-Garis Besar Haluan Negara yang berlaku pada zaman Orde Baru. Pilar ini sudah tentu sangat penting dimana pembangunan nasional yang berkelanjutan mensyaratkan adanya kestabilan politik dan ekonomi. Namun sayangnya, pembangunan yang berorientasi pada kestabilan politik dan ekonomi ini menyisakan ketidakadilan sosial dan lingkungan. Kompas misalnya memberitakan bahwa “[p]ada masa Orde Baru, hutan Indonesia diketahui hilang 2 juta hektar per tahun. Dengan demikian, dalam waktu 15 tahun Indonesia kehilangan 24 juta hektar hutan. Hampir setara 2 kali luas Pulau Jawa” (1). Ini baru aspek hutan saja, impak lainnya sudah tentu perlu penelian yang lebih mendalam.

Mas Adhit menyampaikan keterkaitan antara dimensi sosial, lingkungan dan ekonomi dalam membicarakan “sustainability” (keberkelanjutan). Dimensi sosial memiliki keterkaitan dengan standar dalam kehidupan, pendidikan, komunitas dan kesempatan yang sama. Sementara itu, dimensi ekonomi berkaitan dengan keuntungan, efesiensi biaya, pertumbuhan ekonomi, riset dan pengembangan (development). Terakhir, dimensi lingkungan berkaitan dengan penggunaan kekayaan alam, managemen lingkungan, dan prevensi polusi baik di udara, laut, tanah, dan air. Semua dimensi ini memeliki keterkaitan dalam menciptakan  “sustainability” (keberkelanjutan). Lingkungan dan social erat kaitannya dengan usaha-usaha untuk keadilan lingkungan (environmental justice) yang merupakan fondasi dan sekaligus tujuan dalam membangun negara. Sama halnya, dimensi ekonomi dan sosial menuntut adanya etika bisnis, penghargaan terhadap hak-hak pekerja, dan perdagangan yang fair. Keterkaitan antara dimensi ekonomi dan lingkungan menuntut lahirnya budaya energi terbarukan, mitigasi pengaruh perubahan iklim dan efesiensi dalam menggunakan sumber-sumber alam. Mas Adhit mengemas dimensi-dimensi “sustainability” (keberkelanjutan) ini dengan kisah-kisah menarik saat beliau terjung langsung ke daerah-daerah yang tertinggal di Indonesia. 

Silahkan tonton video Dialog inspiratif Mas Adhit di youtube: https://www.youtube.com/watch?v=B3epPKUkvRA

Referensi

  1. https://kompas.id/baca/utama/2020/01/16/orde-baru-era-kelam-hutan-indonesia

 

 

Comments
There are no comments yet.
Authentication required

You must log in to post a comment.

Log in