Venus Bulan Agustus

04 Nov 2020 Andrea Juliand, S.Sos. 406 0 Culture

Venus Bulan Agustus

Oleh: Andrea Juliand

 

 

Kisah tentang fajar awal bulan tiga

   Tentang mentari yang berpendar jenaka

   Sosok Venus dua puluh tiga, duduk bersiap masuk dunia pena

   Jiwa yang tenang dibalut awan

   Halus, utuh, namun rapuh

   Tegar tapi hanya di luar.

 

Ada apa dengannya?

   Pertama kali kulihat senyum ramah khas jannah, namun datar entah mengapa

   Seakan kerasnya hidup terpampang di muka

   Seperti pahit membekas menahan jiwa

   Jiwa yang dulu damai kini teronggok dalam kotak baja.

 

Riak wajah diam tertahan, senyumnya lembut namun tersimpul

   Berusaha ceria sembari menutup luka

   Tetap semangat dalam pekat

   Lemah, pasrah, namun tabah.

 

Inikah nonfiksi yang difiksikan, Tuhan?

   Yang tertuang dalam ceritanya tentang Jogja

   Tentang imaji yang polos namun dalam menghujam  

   Tentang darah Belanda berpadu Melayu

   Tentang sketsa, kertas, dan pena.

 

Nenek sihir sekaligus ibu peri

  Raja tega yang harus sesuai norma

  Namun juga sosok yang peduli

  Ambil batu, lalu hempaskan.

 

Dia yang tertutup atau aku salah sangka?

   Tentang dara pecinta seni dari Trisakti

   Sosok Venus bulan Agustus penikmat visualisasi

   Ksatria berasi Leo dengan dunianya sendiri.

 

Ada dua fajar kami lalui, lewat logika sederhana ala pembaca jiwa

   Terlihat biasa namun menancap di hati

   Ada idealisme berkawan ego di sana

   Pertarungan antara harga diri bercampur marah tapi peduli.

 

Mada, membuka hati tidak sama dengan menyerahkan

   Satu maaf tak akan buatmu jatuh

   Pengalaman harus jadi pelajaran.

 

Ada saatnya kamu harus menerima

   Ada waktunya perlu memaafkan

   Bukan untuknya, tapi untukmu

   Demi bebasnya jiwamu sendiri

   Lepaskan tawamu, tawa yang tertahan lebih dari satu hujan dan satu kemarau.

 

Damailah, tenteramkan diri

   Terima bahwa semua ada jalannya

   Jalan dari Sang Maha Pembolak-balik Hati.

 

Ada satu harap bila kita bersua kembali

   Ada satu doa yang sederhana

   Sesederhana melihatmu bahagia

   Tentangmu, pemilik senyum sehalus sutra

   Tentang malam yang bercerita jenaka

   Tentang sepeda beroda semangka.






BY: Andrea Juliand, S.Sos.

Related Articles

Post Comments

No comments yet, Be the first to comment.