Kontestasi Perempuan dan Ras dalam Pemilu Amerika

06 Sep 2020 Prof. Etin Anwar, Ph.D. 351 0 Gender and Feminism

Konflik ras di Amerika memiliki dimensi sejarah yang panjang. Perbudakan terhadap suku bangsa Afrika mengakar ke dalam sendi-sendi masyarakat sejak tahun 1700. Perlakuan semena-mena terhadap bangsa Amerika Afrika ini menjelma selama ratusan tahun dan menyebabkan berbagai ketimpangan sosial, politik, dan ekonomi. Mereka jua dihantui rasa takut dan inferior di karena mereka senantiasa mendapat ketidakadilan dan perlakukan semena-mena terutama ketika berhadapan dengan sistem pengadilan (court system) dan penegakan hukum (law enforcement). Dipilihnya Kamala Harris (Senator asal California yang berketurunan India dari garis keturunan ibu dan Jamaika dari garis keturunan ayah), sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan Joe Biden menimbulkan harapan baru di kalangan kaum Afrika-Amerika. Selain itu, sebagai seorang perempuan, Kamala Harris juga memberikan kesempatan historis pagi para pemilih untuk memberikan ruang kepada keadilan jender sebagai faktor yang diperhatikan dalam pemilu.

Amerika merupakan negara yang lahir dari perang dan dari perebutan tanah milik pendudukan asli Amerika yang dikenal pribumi Amerika (native Americans). Amerika mencapai kemerdekaan 4 Juli 1776 sebagai akibat perang antara pihak Inggris dan kalangan yang dipercaya Inggris untuk melakukan tanggung jawab administrasi otoritas pemerintahan Inggris. Pemberontakan atas aturan Inggris yang menekan pembayaran pajak negara jajahan melahirkan gerakan perang untuk merdeka dengan dukungan kalangan yang mereka mulai merasakan patriotime sebagai bangsa jajahan, namanya Amerika. Setelah perang revolusi Amerika selesai pada tahun 1781, terbentuklah negara federasi walaupun masih dengan jumlah negara bagian yang masih terbatas. Barangkali keberhasilan yang terpenting dari negara Amerika saat itu adalah lahirnya Konstitusi yang mengatur tiga bentuk kekuasaan: eksekutif, legislatif, dan pengadilan (1) dan hak-hak sivil warga negara.

Walaupun kemerdekaan dan Konstitusi Amerika lahir atas dasar persamaan anggota masyarakat yang dipimpin dan hak Amerika untuk menentukan nasib bangsanya dengan hak dan kewajiban di dalamnya, negara muda Amerika masih dihantui praktek perbudakan dan diskriminasi terhadap perempuan. Boleh dikatakan kemerdekaan Amerika saat itu belum merata karena yang diuntungkan hanya penguasa dan rata-rata berkulit putih dan berjenis kelamin laki-laki. Konstitusi Amerika saat itu merumuskan orang-orang yang masih diperbudak hanya dianggap 3/5 dari orang merdeka (1). Orang kulit hitam masih terus diperdagangkan hingga tahun 1800 dan bahkan negara-negara di bagian selatan menerapkan “Black Code” yaitu tatanan hukum yang dibuat untuk mendiskriminasi bangsa kulit hitam (126). Sama halnya para perempuan kulit putih pun tidak masuk dalam wacana Konstitusi Amerika. Elizabeth Cady Stanton menuliskan draft “The Declaration of Sentiments”—yang kemudian disepakati menjadi “the Seneca Falls Convention’s manifesto” dalam Women’s Rights Convention pada tanggal 19-20 Juli 1848— dimana gerakan ini menuntut persamaan hak-hak sebagai warganegara dalam politik, ekonomi, pendidikan, pemilikan harta, dan pengasuhan anak-anak. Baru pada tahun 1866, melalui The Civil Rights Acts, semua warga mendapatkan hak-hak kependudukan (kecuali kaum pribumi Amerika) dan hak-hak sivil. Hak untuk memilih bagi warga Amerika baru diberikan pada tahun 1919.

Dengan sejarah diskriminasi yang panjang, sudah tentu bukan hal mudah bagi perempun dan ras kulit hitam untuk selalu berjaya dalam pemilihan umum Amerika. Presiden Barack Obama memang pernah menjadi presiden ras kulit hitam yang pertama selama dua periode (2009-2017). Namun kemenangan Barack Obama telah melahirkan anti kulit hitam yang mengakar dalam politik dan cara pandang mayoritas Amerika yang kemudian menumpahkan kekecewaan dengan memilih Presiden Trump. Dalam kontek konflik ras yang memanas dan ketidaksenangan terhadap Hillary Clinton, sebagai calon presiden bagi kalangan tertentu karena beliau istri Bill Clinton, mantan presiden Amerika tahun 1993-2001, pemilu di Amerika ini senantiasa melahirkan kontestasi politik yang liar.  Untuk itu, terpilihnya Kemala Harris sebagai perempuan ras hitam pertama yang dipercayai menjadi Wakil Presiden dari balon Presiden Joe Biden menguji kekuatan ras dan perempuan dalam memenangkan pemilu di Amerika.

Reference

1.              Marshall Smelser, American History at a Glance (New York: Barnes and Noble, 1962),

42.

2.         https://edsitement.neh.gov/closer-readings/declaration-sentiments-seneca-falls-conference-1848.

 

BY: Prof. Etin Anwar, Ph.D.

Related Articles

Post Comments

No comments yet, Be the first to comment.