Kesehatan Mental dan Stigma Sosial Coronavirus

11 Oct 2020 Prof. Etin Anwar, Ph.D. 397 0 Covid-19

Kesehatan Mental dan Stigma Sosial Coronavirus

 

Bencana pandemi telah menyerang siapa saja tanpa mengenak usia. Secara umum, yang sering terlihat dari serangan virus korona itu berdasarkan gejala-gejala fisik yang nampak. Gejala-gejala fisik, seperti deman/badan panas dan dingin, kesulitan bernafas, merasa capai, sakit badan, pusing kepala, sakit tengorokan, dan diare, merupakan ciri-ciri terjangkitnya virus Covid-19. Selain dari impak kesehatan fisik, pandemi juga melemahkan dimensi ekonomi, lapangan kerja, sekolah-sekolah, dan kegiatan-kegiatan fisik di ruang publik. Tantangan hidup pun secara umum lebih berat. Para ibu dan bapak perlu bekerja di rumah dan memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak usia sekolah. Anak-anak sekolah online atau bahkan tidak bisa melakukan kegiatan online karena tidak ada pulsa atau sarana lainnya. Mereka tidak bisa bermain-main dan bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Sudah barang tentu keadaan seperti ini berpengaruh sama bagi kesehatan fisik dan mental keluarga. Bahkan, penderitaan yang terkena Covid dan ditinggalkan keluarga tercinta akan lebih membebani fisik dan mental. Sayangnya, kesadaran untuk membicarakan persoalan pengaruh pandemi terhadap kesehatan mental masih belum banyak. Hal ini berkaitan erat dengan stigma-stigma sosial yang berkaitan dengan Coronavirus, diantaranya rasa takut tertular dan menganggap bahaya terhadap masyarakat. Stigma semacam ini mucul karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental anggota masyarakat tentang Covid-19 dan impak yang muncul pada individu-individu yang terkena.

 

Pemahaman tentang tentang kesehatan mental dan kaitannya dengan Covid-19 ini masih banyak memerlukan advokasi dan perlu menjadi prioritas. Kesehatan mental menurut Policy Brief: COVID-19 and the Need for Action on Mental Health yang dikeluarkan oleh UN pada tanggal 13 Mei 2020 sebagai keadaan mental yang sehat dimana seseorang mampu untuk beradaptasi dalam menghadapi tekanan-tekanan dalam hidup dan bisa merealisasikan potensi-potensi dalam dirinya secara produktif, dan berkontribusi ke masyarakat (5). Untuk melihat secara kongkrit mengenai tekanan-tekanan yang muncul dalam masa pandemi, kita bisa melihat dari jumlah yang terkena Covid, baik yang sembuh maupun yang meninggal. Menurut data terbaru yang dikeluarkan oleh Satgas Covid-19 dalam laman https://covid19.go.id/, terhitung tanggal 11 Oktober 2020, yang positif terhitung sekitar 333.449, yang sembuh ada 55.027, dan yang meninggal sejumlah 11.844. Bagi yang terkena Covid-19, persoalan ini tidak mudah. Berita bahwa seseorang menderita Covid dalam lingkungan RT dan RW bisa mengakibatkan isolasi dari masyarakat. Sama halnya, berita pesantren yang santrinya kena Covid tidak memudahkan dalam pengobatan di lokasi puskesmas setempat. Respon masyarakat yang didasari rasa takut dan pengasingan terhadap yang terkena bisa mengakitkan penderita Covid lebih tertekan. Memang betul bahwa Covid-19 bisa menular melalui pernafasan dan juga udara dalam ruangan, akan tetapi proper prosedur, isolasi mandiri, dan bergaul secara berjarak bisa mengurangi stigma sosial Covid-19.

 

Selain dari persoalan perlunya advokasi tentang Covid-19 dan peranannya dalam kesehatan mental, pemeliharaan terhadap produktivitas individu juga perlu digalakkan. Salah satu dari dimensi kesehatan mental adalah adanya produktivitas yang dihasilkan oleh seseorang dalam hidupnya. Memang coronavirus sudah merubah dimensi produktivitas yang kita miliki. Produktivitas sering kali dihubungkan dengan bekerja di luar rumah dan menghasilkan uang yang cukup. Dalam suasana pandemi, secara ekonomi semua terkena impas berkurangnya penghasilan, bahkan kehilangan penghasilan sama sekali. Indonesia secara ekonomi dalam kwartal kedua mengalami penurunan drastic hingga minus 5,32 % (3). Menurut UNICEP, yang paling banyak mengalami impak dari penurunan ekonomi ini adalah pekerja servis dan pelaku ekonomi informal dimana jumlahnya sebanyak 60% dari ekonomi Indonesia. Statistik ini menunjukkan bahwa banyaknya pasangan suami isteri yang kehilangan sumber ekonomi, anak-anak yang kehilangan akses ke makanan bergizi, dan kemungkinan kesempatan belajar online karena biaya internet. Dengan menumpuknya masalah yang dihadapi bisa dibayangkan beban mental yang menghimpit banyak keluarga.

 

Pandemi Covid-19 menyisakan tugas berat bagi masyarakat untuk mengedepankan kesehatan mental. Keluarga perlu berpacu dalam menciptakan kesehatan mental. Sudah tentu harapan ini boleh dikatakan muluk. Banyak keluarga yang yang menderita beban ekonomi. Beban ekonomi keluarga bisa merambat ke persoalan kesehatan mental lainnya, diantaranya relasi harmonis dalam keluarga antara hubungan pasutri, anak-anak dan orang tua, anggota keluarga lainnya, dan juga relasi sosial. Dalam tatanan relasi sosial, problema-problema bisa lebih rumit. Kalau dalam suasan normal, hubungan sosial dengan tetangga, saudara, atau rekan kerja bisa mengalir tanpa beban. Tetapi dalam suasana pandemi, relasi sosial kita dihantui istilah “jangan-jangan:” jangan-jangan tetangga sakit tapi tidak mau bilang-bilang; jangan-jangan kalau sakit, akan menularkan pada kita; jangan-jangan kalau pergi berobat, tambah sakit dan cari penyakit. Stigma ini bukan hanya membuat kita bisa sakit secara mental, tetapi juga menghambat produktivitas sehari-hari karena hidup kita dihantui oleh pikiran-pikiran yang negatif. Untuk itu, salah satu cara untuk kita berorientasi pada mental yang sehat adalah dengan menginternalisasikan cara berfikir yang positif dan kalau kita menyadari bahwa kesedihan dan kecemasan menghantui kita, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi ke dokter. Sama halnya, kalau anggota keluarga dan teman dekat mengeluhkan mengenai suasana hati yang yang sangat sedih atau merasa kegalauan yang suicidal, kita perlu membantu. Bersikap terbuka atas problem yang diderita adalah langkah awal untuk kesehatan mental kita.

 

Referensi

1. https://unsdg.un.org/sites/default/files/2020-05/UN-Policy-Brief-COVID-19-and-mental-health.pdf

2. https://covid19.go.id/

3. https://ekonomi.bisnis.com/read/20200926/9/1296899/dampak-covid-19-jokowi-pertumbuhan-ekonomi-dunia-terkontraksi-tajam

4. https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/2020-05/COVID-19-and-Children-in-Indonesia-2020_0.pdf

 

BY: Prof. Etin Anwar, Ph.D.

Related Articles

Post Comments

No comments yet, Be the first to comment.